“Theravada, Mahayana, dan Tantrayana”
oleh Hendra Wijaya, S.Kom.

Setiap aliran dalam Agama Buddha memiliki perbedaan. Namun, sebenarnya tidak ada pertentangan di antara aliran-aliran tersebut.

Buddha mengajarkan kita untuk menjadikan pikiran sebagai pelopor. Kita diajak berusaha untuk memikirkan kehidupan yang akan datang. Harus ada motivasi mengapa kita menjadi umat Buddha.

Dengan merenungkan pikiran seakan-akan besok akan mati, kita berpikir apakah kita akan masuk ke alam yang tinggi atau rendah. Ketika kita merenungkan apa yang terjadi di alam rendah, muncul rasa Hiri dan Ottapa. Kemudian, kita merenungkan apakah kita butuh “obat”. “Obat” itu adalah Tisarana. Dengan Tisarana yang kuat, maka praktek Dhamma pun akan kuat juga.

Kita juga mesti menyadari kekurangan Samsara: ketidakpastian, ketidakpuasan, meninggalkan tubuh berulang kali, kelahiran kembali berulang kali, jatuh bangun, dan tidak memiliki teman. Dengan menyadari hal tersebut, kita memiliki niat untuk berbuat baik dan membebaskan diri serta semua makhluk dari penderitaan.

Pada akhirnya, aliran-aliran tersebut dapat diibaratkan sebagai secangkir kopi. Aliran adalah cangkir dan Dhamma adalah kopi. Jika kita terlalu fokus dengan cangkir, kita tidak bisa menikmati kopi.