“Cita-Cita Umat Buddha”
oleh: Y.M. Phra Acharya Vijjuko Dharmapala (Miau Thung Mahasthavira)

Tujuan dari setiap kehidupan atau keinginan setiap manusia adalah mencapai kebahagian, tetapi dalam pencapaiannya terbagi menjadi dua, yaitu berdasarkan waktu (sekarang dan akan datang) dan berdasarkan jenisnya (duniawi dan batin). Kemudian dalam pencapaian tujuan melalui batin dibedakan lagi menjadi dua, yaitu keadaan semu dan keadaan yang sebenarnya.

Manusia dalam mencapai keinginannya memiliki dua pemikiran mengenai kemungkinan yang akan terjadi, seperti pertanyaan “Bagaimana jika nantinya tidak dapat?” atau “Jika sudah dapat, bagaimana kelanjutannya?”. Kedua pertanyaan tersebut sebenarnya sama yaitu mengenainya “bagaimana” karena dalam pikiran kita sudah ada konsep berhubungan dengan apa yang dirasa, dilihat, didengar, dan disentuh (sentuhan). Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita bisa menderita karena di batin kita sudah berkata itu adalah “milikku”, padahal kita belum memilikinya dan jika dapat pun bisa menjadi masalah karena ada rasa memiliki dan takut kehilangan.

Kebahagiaan yang sejati adalah tidak adanya perubahan apapun terhadap batin dalam segala keadaan atau situasi. Karena keinginan manusia tidak ada habisnya, maka pada akhirnya tidak dapat membedakan antara kebutuhan dengan keserakahan. Keinginan yang berlebihan juga dapat membuat diri sendiri dalam kesusahan dan keinginan yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara (tidak sejati).