Renungan Kebaktian “Akulturasi dalam Agama Buddha”

Namo Buddhaya, Welcome to Dharmayana!

Renungan Kebaktian “Akulturasi dalam Agama Buddha”

“Akulturasi dalam Agama Buddha”
oleh Y.M. Bhikkhu Ratanadhiro

Akulturasi adalah percampuran dua budaya menjadi sebuah budaya baru tanpa mengindahkan budaya yang telah ada. Terdapat beberapa contoh akulturasi dalam buddhisme seperti persembahyangan Ce It & Cap Go dan Pattidana yang diadaptasi dari tradisi qingming atau lebih dikenal dengan nama tradisi cheng beng (hokkian). Ada pula salah satu ciri khas kemegahan seni arsitektur Indonesia yaitu Candi Borobudur yang merupakan salah satu bentuk nyata akulturasi agama Buddha dengan kebudayaan Jawa di masa lampau.

Kemudian akulturasi yang terjadi pada jubah bhikkhu aliran Mahayana. Jubah yang dikenakan bhikkhu sekarang berbeda dengan jubah yang digunakan dahulu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan kondisi geografi & cuaca di daratan Tiongkok yang memiliki cuaca dingin yang bersalju.

Akulturasi yang kita temukan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk “pertahanan hidup” agama Buddha agar budaya baru (Dharma) yang kita bawa mampu diterima dan diolah oleh masyarakat tanpa menghilangkan unsur budaya yang telah eksis dahulu.

Q: Apakah ada dewa & dewi dalam agama Buddha?
A: Awalnya berasal dari kebudayaan RRT dan lebih ke aliran Mahayana. Dewa & dewi yang dimaksud adalah calon Buddha. Di candi-candi Jawa Tengah dapat ditemukan Bodhisattva Avalokitesvara yang berwujud laki-laki (merupakan perwujudan cinta kasih yang dimiliki manusia).
.
Q: Bagaimana sikap kita sebagai seorang buddhis dalam menghadapi budaya seperti menyajikan sesajian hewan untuk keperluan sembahyang atau minum arak saat upacara tertentu?
A: Jika kepada orangtua yang masih pegang teguh adat kepercayaan lebih baik diberi anjuran dengan sopan. Anjuran untuk membeli sesajian hewan yang sudah mati tanpa dipesan sehingga kita tidak membunuh dengan niat. Jika tidak bisa diberikan anjuran, jangan menentang. Biarkan saja sambil tetap pelan-pelan diberi anjuran karena sebuah tradisi atau keyakinan yang sudah diyakini sulit untuk diubah.

Dalam Jivaka Sutta, Majjhima Nikaya 55:
Bukan karena makanan seseorang dianggap suci tetapi karena perbuatan & pikiran baiknya.